rumah minimalis

“Pingin banget bisa rumah yang bagus kayak model-model jaman sekarang” Kata Lani sore itu, saat kami sedang menelusuri selasar mall. Kebetulan ada sebuah pameran perumahan yang dibuka disana.

“Kalau sekarang yang sedang tren itu rumah dengan gaya minimalis.” Kataku.

“Oh ya? Seperti yang ditampilkan di poster itu, bagus banget. Rumahnya sih nggak besar. Kayaknya cocok dengan rumah yang kutinggali sekarang. Tapi herannya, rumah itu kok bisa terlihat bagus ya?¬† Padahal bentuknya sederhana.”

“Konsep rumah minimalis memang sederhana. Sesuai dengan namanya : Minimalis. Jadi hanya menggunakan bentuk dan material yang benar-benar diperlukan saja.”

“Bisa nggak ya, aku punya rumah minimalis seperti ini tanpa harus pindah rumah….”

“Maksudmu, rumahmu yang lama mau kamu renovasi begitu?”

“Iya. Kalau beli rumah baru lagi.. mahal. Tabunganku belum cukup.”

“Bisa saja. Aku punya seorang teman arsitek yang memberikan layanan jasa desain rumah minimalis secara freelance. Dia kerja sendiri di rumah. Kalau kamu mau, aku bisa mengenalkanmu padanya.”

“Tapi mahal nggak sih kalau kita menggunakan jasa arsitek kayak gitu. Arsitek kan biasanya mahal…?”

“Harga tepatnya aku belum tahu. Tapi kamu nggak usah khawatir. Kami sudah kenal dekat. Dia pernah satu kos denganku waktu kuliah dulu. Soal harga, kalau aku yang menyampaikan, pasti dia nggak akan kasih mahal.”

“Beneran nih? Wah … kapan kita bisa ketemuan dengannya? Aku sudah nggak sabar pingin merombak rumahku.”

“Gampang.., besok sepulang kerja, kita ke rumahnya. Tapi kamu bilang ke suamimu dulu. Jangan sampai dia nggak setuju.”

“Ah…Tenang saja kalau soal itu. Kalau soal penataan rumah, suamiku terima beres deh. Apalagi kalau biayanya tidak terlalu mahal. Teman arsitekmu itu bisa kan, menghitung¬† berapa biaya yang diperlukan untuk renovasi?”

“Bisa dong, kan itu memang pekerjaannya. Kalau nggak salah namanya RAB. Rancangan Anggaran dan Biaya. Malah dia bisa juga menentukan jumlah material yang diperlukan seperti besi, bata, pasir dan yang lainnya.”

“Ya bolehlah… Pokoknya besok kita harus ketemu dengan dia. Awas lho ya, jangan sampai nggak jadi.”

“Iya.. tenang saja. Kalau buat kamu apa sih yang nggak…”

“Hehehe… makasih ya”

“Ah, udah ah. Kok kita malah disini terus sih. Jadi nggak mau cari kado buat bayinya Sinta?”

“Oh iya…, yuk. Entar keburu sore”

Kami berdua meninggalkan stand pameran perumahan itu. Sebuah pameran perumahan yang dikunjungi banyak orang karena pilihan desain rumah minimalisnya yang menarik.