Pada tahun 2015 hingga 2016, tehnik jajar legowo menyeruak dalam pembahasan di kalangan petani secara nasional. Sebagian berpendapat bahwa tehnik ini mampu meningkatkan produksi secara signifikan, sebagian yang lain berpendapat bahwa tehnik ini hanya buang-buang lahan saja.

Pendapat ini bukan tanpa alasan bagi orang yang masih awam terhadap tehnik ini. Karena jika diamati sepintas, tehnik ini seolah mengurangi populasi tanaman dengan cara menghilangkan satu barisan tanaman padi dengan kombinasi angka tertentu seperti 4:1, dan 2:1. Artinya 2 barisan tanaman padi, kemudian barisan selanjutnya dihilangkan atau 4 barisan tanaman padi yang kemudian satu barisan dihilangkan.

Namun, jika diamati lebih seksama tidak ada pengurangan populasi padi dalam suatu lahan. Barisan yang dihilangkan sebenarnya dipindahkan ke barisan paling tepi sehingga barisan luar terlihat leih rapat dibandingkan barisan tengah.

Lalu timbullah pertanyaan mengapa tehnik ini bisa meningkatkan produktivitas? Jarak tanaman yang lebih lebar yang sengaja dibuat ini membuat sinar matahari mampu menjangkau tanaman secara lebih luas. Hasilnya, tanaman padi bisa memaksimalkan cahaya matahari tersebut sehingga bisa meningkatkan hasil produksi. Pada tehnik normal, hal ini bisa kita jumpai pada tanaman yang dekat dengan “galengan” sawah biasanya memiliki biji yang padat dan banyak sehingga sampai merunduk di tepi pematang.

Tidak sedikit petani yang kontra terhadap tehnik jajar legowo ini. Pertama, mereka mengeluhkan biaya operasional yang naik akibat berlakunya sistem jajar legowo pada saat tanam. Biaya naik akibat target yang biasanyadapat mereka selesaikan dalam sehari, saat ini harus membutuhkan dua hari akibat adanya cara baru yang harus mereka terapkan saat tanam. Kedua, tehnik tanam jajar legowo tidak signifikan meningkatkan hasil jika dibandingkan dengan penerapan bibit unggul. Petani masih beranggapan bahwa faktor penentu peniingkatan produktivitas adalah penggunaan varieta sunggul. Ketiga, pada saat yang bersamaan, muncul juga tehnik hazton yang juga menawarkan peniingkatan produktivitas, sehingga sosialisasi dan proses adopsi petani terhadap teknologi jajar legowo mengalami distorsi.

Petani sebagai pemilik lahan dan berdaulat atas penggunaan lahan adalah pihak yang paling berhak untuk menentukan teknologi mana yang akan digunakan. Penyebaran teknologi dan informasi budidaya tanaman khususnya padi diharapkan mampu menambah pengetahuan petani dan bisa berpikir logis dalam menentukan pilihan teknologi.